• Facebook Perdosri Jatim
  • Instagram perdosri_jawatimur
  • Email perdosrijatim@gmail.com

Thumb
09 Jun
  • Redaksi
  • 09 Jun 2021

Menembus Batas Meraih Pelangi

(Dibawakan oleh Dr. dr. Ratna D Haryadi Soebadi, Sp.KFR(K) pada acara peringatan Hari Disabilitas Internasional yang diadakan PERDOSRI Jawa Timur pada 6 Desember 2020)

 

Orang tua adalah orang yang paling menginginkan anaknya mencapai yang terbaik. Peran orang tua adalah yang paling utama pada kondisi anak dengan disabilitas. Disabilitas adalah gangguan fungsi atau kelainan anatomis akibat penyakit atau kelainan bawaan atau yang didapat sehingga terjadi hambatan aktivitas dan atau keterbatasan dalam partisipasi. Peran dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi adalah sebagai dokter ahli fungsi. Dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi membantu melihat kondisi fungsi dan melakukan evaluasi berkala terhadap fungsi apa yang dapat ditingkatkan dari kondisi anak penyandang disabilitas.

Rehabilitasi pediatri adalah disiplin ilmu kedokteran rehabilitasi yang melakukan tatalaksana pada anak dan remaja yang mengalami gangguan fungsi atau kelainan anatomis akibat penyakit atau kelainan bawaan atau yang didapat sehingga terjadi hambatan aktivitas dan atau keterbatasan dalam partisipasi. Pada anak dengan disabilitas, manifestasi problem terjadi pada berbagai domain fungsi terkait kesehatan dan berhubungan erat dengan perkembangan anak serta interaksi dengan lingkungannya. Gangguan dapat melibatkan berbagai fungsi dan struktur anatomis serta restriksi partisipasi dapat terjadi dalam berbagai domain fungsi, mulai dari motorik, sensorik, visual, pendengaran, bicara, bahasa, komunikasi, makan, kognitif, psikis, sosial maupun emosi. Gangguan motorik dan mobilitas sering merupakan hal yang menonjol. Peran rehabilitasi adalah optimalisasi partisipasi dengan penatalaksaan yang selaras dengan tumbuh kembang dan pendidikan.

Dampak disabilitas pada anak adalah tumbuh kembang yang terganggu. Gangguan tumbuh kembang terjadi karena ketidakmampuan atau keterlambatan dalam hal pengalaman untuk mejelajah lingkungan, berinteraksi sosial dengan lingkungan dan proses belajar. Dampak disabilitas anak pada orang tua meliputi masalah adanya rasa bersalah, tidak berdaya, kecewa, frustasi, marah, merasa gagal, dan bingung serta merasa tidak ada solusi.

Adapun hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dari anak dengan disabilitas adalah hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Hal yang boleh dilakukan meliputi sayang, puji, hargai, pandu, bantu memintarkan, carikan yang terbaik, tingkatkan kemampuan dan optimis. Hal yang tidak boleh dilakukan adalah marah, menyakiti, memukul, mencaci, melecehkan, membandingkan dan mem-bully. Peran orangtua bagi anak dengan disabilitas adalah sebagai pembela (advocate), perantara (broker), pengajar (teacher) dan project manager. Hal praktis yang dapat dilakukan orangtua yang mempunyai anak dengan disabilitas adalah jabarkan dan cermati kekhawatiran dan kegalauan (bila perlu tuliskan), cari pilihan solusi dengan menemui para pakar (dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, guru maupun pakar lain), tentukan langkah berikutnya dengan mengikuti arahan sehingga dapat menentukan pilihan jalan yang paling sesuai untuk ditempuh sesuai dengan kondisi, serta evaluasi perkembangan bersama dengan para pakar.

Anak dengan disabilitas juga membutuhkan perwujudan keluarga dan lingkungan yang ramah anak, yaitu kondisi yang suportif melalui adaptasi (baik modifikasi maupun akomodasi). Kondisi suportif termasuk peran untuk memandu (bukan meladeni), melayani yang positif untuk mencapai yang lebih baik dari kemarin dan bantuan yang menjadi umpan untuk naik ke level berikutnya.

Hal yang perlu diperhatikan orang tua untuk dapat membawa anak dengan disabilitas ke jenjang berikutnya (“Menembus Batas Meraih Pelangi”) adalah mempunyai tujuan yang jelas, lakukan setiap langkah kecil yang dapat dilakukan dengan konsisten, selalu mencari peluang dalam setiap aktivitas sehari hari untuk dapat memahirkan anak, membantu anak hanya di segmen yang perlu serta selalu meninjau kembali adanya peluang untuk dapat maju ke perkembangan kondisi yang berikutnya.