• Facebook Perdosri Jatim
  • Instagram perdosri_jawatimur
  • Email perdosrijatim@gmail.com

Thumb
19 Jul
  • Redaksi
  • 19 Jul 2021

Peran Tatalaksana Rehabilitasi Medik pada Tatalaksana Disabilitas

Peran Tatalaksana Rehabilitasi Medik pada Tatalaksana Disabilitas

(Dibawakan oleh dr. Rwahita Satyawati, Sp.KFR(K) pada acara peringatan Hari Disabilitas Internasional yang diadakan PERDOSRI Jawa Timur pada 6 Desember 2020)

 

Sejarah pelayanan rehabilitasi di Indonesia dimulai pada tahun 1951 oleh dr. Raden Soeharso yang merupakan dokter ahli bedah alumni NIAS dengan mendirikan Rehabilitasi Centrum di Surakarta, yang menjadi cikal bakal Rumah Sakit Ortopedi Prof. Dr. Soeharso Surakarta. Semangat Beliau yang luar biasa menimbulkan keinginan dokter lain di berbagai daerah di Indonesia untuk memberikan layanan Rehabilitasi Medik, termasuk salah satunya adalah dr. Raden Oemijono Moestari. Pada tahun 1961, dr. Raden Oemijono Moestari yang sudah merupakan dokter spesialis neurologi-psikiatri di RSUD dr. Soetomo melanjutkan pendidikan bidang Rehabilitasi Medik di New York University di bawah bimbingan Dr. Howard Rusk. Setelah menyelesaikan di New York University, Beliau pulang ke Indonesia dan mendirikan Unit Fisioterapi di bagian neurologi psikiatri RSUD dr. Soetomo pada tahun 1966. Unit ini yang menjadi cikal bakal bagian Rehabilitasi Medik di RSUD dr. Soetomo.

Menurut data Riskesdas tahun 2018, proporsi disabilitas pada dewasa usia 18-59 tahun di Indonesia  adalah berkisar di angka 21,1% hingga 29,6%. Data tersebut juga menunjukkan bahwa berdasarkan jenis kelamin, proporsi disabilitas pada perempuan (25,2%) sedikit lebih banyak dibandingkan pria  (18,8%), sedangkan proporsi disabilitas di area pedesaan (22,1%) dan perkotaan (21,9%) relatif sama.

Pada tahun 2016, pemerintah mengeluarkan Undang-undang No 8 tentang penyandang disabilitas. Bagian ke-8, pasal 12 dari undang undang tersebut menyebutkan bahwa dalam hal kesehatan, penyandang disabilitas mempunyai hak untuk memperoleh kesamaan dan kesempatan akses di bidang kesehatan, termasuk pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau. Kebijakan layanan kesehatan inklusif disabilitas di fasilitas pelayanan kesehatan juga tertuang dalam Undang-undang No 44 tahun 2009 tentang rumah sakit, dimana ada disebutkan bahwa salah satu kewajiban rumah sakit untuk dapat menyediakan sarana dan prasarana umum yang layak termasuk untuk penyandang disabilitas. Permenkes No 24 tahun 2016 tentang persyaratan teknis bangunan dan prasarana rumah sakit juga menyebutkan bahwa rumah sakit harus menyediakan fasilitas yang aksesibel bagi penyandang disabilitas.

Definisi Rehabilitasi Medik menurut AAPMR (American Academy of Physical Medicine and Rehabilitation) adalah cabang ilmu kedokteran yang fokus pada penanganan disabilitas secara komprehensif sebagai akibat dari penyakit atau cidera pada sistem tulang-otot-saraf dan jantung-paru, serta gangguan psiko-sosial-vokasional yang menyertainya. Goal dari bidang Rehabilitasi Medik adalah sedapat mungkin menghilangkan disabilitas, meminimalkan kejadian disabilitas dan mempertahankan fungsi dan kemandirian hidup pada kondisi terjadinya disabilitas. Dengan goal tersebut, tim Rehabilitasi Medik bertujuan untuk mengoptimalkan fungsi seorang individu melalui obat, modalitas fisik, latihan terapeutik, modifikasi gerakan dan aktivitas, alat bantu, ortesa protesa dan lain lain. World Health Organization (WHO) membagi disabilitas berdasarkan 3 tingkatan, yaitu impairment, disability dan handicap. Impairment adalah suatu kehilangan atau abnormalitas psikologis, fisiologis, atau struktur/fungsi anatomis dari seseorang (gangguan di tingkat organ, jaringan atau sistem). Disability adalah berkurang atau terhambatnya performa sesorang untuk beraktivitas secara normal yang diakibatkan oleh impairment (gangguan di tingkat manusia). Handicap adalah kerugian seseorang akibat impairment dan disability, yang menyebabkan keterbatasan dalam memenuhi perannya, tergantung pada usia, jenis kelamin dan faktor sosiokultural (gangguan di tingkat lingkungan dan sosial). Selanjutnya WHO mengembangkan konsep yang lebih interaktif yang saling terkait antara hubungan kondisi kesehatan dengan fungsi dan struktur tubuh, aktivitas, partisipasi, faktor lingkungan dan faktor personal dalam suatu kerangka ICF. Berdasarkan penyebabnya, disabilitas dapat dibagi menjadi primer (terjadi langsung karena penyakit atau trauma) dan sekunder (biasanya karena imobilisasi lama).

Tim Rehabilitasi Medik terdiri dari dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, fisioterapis, terapis okupasi, terapi wicara, ahli pembuat ortesa dan protesa, psikolog, perawat, pekerja sosial medis, termasuk pasien dan keluarga pasien. Dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi berperan sebagai ketua tim dan untuk menentukan diagnosa dan tatalaksana pasien. Fisioterapis membantu pasien untuk melatih gerakan kasar (gross motor) seperti berdiri dan berjalan. Terapis okupasi membantu pasien untuk melatih gerakan halus (fine motor) seperti menulis dan berpakaian. Terapis wicara membantu pasien bila ada gangguan wicara atau gangguan menelan. Ahli pembuat ortesa dan protesa membantu untuk pembuatan ortesa (alat bantu, misal: korset, brace) dan pembuatan protesa (alat palsu, misal kaki palsu untuk pasien amputasi). Psikolog membantu untuk memberikan pelayanan terkait masalah psikologis maupun stres yang dialami oleh pasien karena keadaan disabilitasnya. Perawat membantu perawatan medis yang dibutuhkan pasien misalnya perawatan luka akibat tirah baring lama. Pekerja sosial medis berperan sebagai jembatan antara tim yang ada di rumah sakit dan kondisi yang ada di masyarakat, misalnya ada seorang pasien yang membutuhkan kursi roda maka pekerja sosial medis akan melakukan kunjungan dan evaluasi tentang akses penggunaan kursi roda di kondisi lingkungan rumah pasien. Pasien dan keluarga pasien juga anggota tim Rehabilitasi Medik yang penting peranannya, yaitu mulai dari saat pasien dan keluarga pasien menyepakati goal atau tujuan program rehabilitasi bersama dokter spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, lalu bekerja sama dengan seluruh tim Rehabilitasi Medik untuk memastikan kelangsungan program rehabilitasi termasuk saat di rumah, sambil menjaga motivasi pasien tetap tinggi untuk mencapai goal semaksimal mungkin. Pelayanan rehabilitatif meliputi upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabiltiatif.

Sebagai kesimpulan, Rehabilitasi Medik adalah pelayanan pada penyandang disabilitas yang berfokus pada pengoptimalan fungsi dalam upaya meningkatkan kualitas hidup. Pelayanan ini merupakan suatu kerja tim yang memberikan penatalaksanaan secara komprehensif. Motto tim rehabilitasi adalah “Not only to add years to life, but also add life to years”.