• Facebook Perdosri Jatim
  • Instagram perdosri_jawatimur
  • Email perdosrijatim@gmail.com

Thumb
02 Sep
  • Redaksi
  • 02 Sep 2021

Mengenal Teknik Relaksasi di Bidang Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

Mengenal Teknik Relaksasi di Bidang Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

Oleh : dr. Ikhwan M., M.OHS, M.Ked.Klin., SPKFR

 

 

Kondisi rileks merujuk pada kondisi fisik atau pikiran yang terbebas dari stress. Stress dalam jumlah yang cukup sebenarnya baik karena memungkinkan seseorang beradaptasi dan mengembangkan kemampuan baru. Namun, apabila stress timbul terus menerus dalam jangka waktu lama maka dapat menimbulkan efek buruk. Kondisi stress menyebabkan gangguan dengan gejala psikologis, fisik, dan perilaku. Gejala psikologis diantaranya meliputi perasaan mudah marah, sedih, cemas, takut, sedih, dan sulit berkonsentrasi. Gejala fisik diantaranya meliputi peningkatan denyut nadi, peningkatan irama pernafasan, dan otot yang tegang. Gejala perilaku diantaranya meliputi gangguan pola makan, gangguan pola tidur, serta penggunaan obat-obatan terlarang. Gangguan pikiran dan fisik yang timbul dalam kondisi stress tidak bisa dipisahkan dan saling mempengaruhi satu sama lain.

Untuk membantu mencapai kondisi rileks dan bebas stress dapat dilakukan latihan relaksasi. Terdapat berbagai macam latihan relaksasi yang menggunakan pendekatan yang berbeda-beda. Secara umum pendekatan dalam latihan relaksasi dapat dibagi menjadi pendekatan psikologis, fisik, dan perilaku. Pendekatan fisik dilakukan dengan memodifikasi gejala fisik yang timbul akibat stress dengan tujuan membantu meredakan stress dan menciptakan kondisi pikiran yang rileks, diantaranya yaitu dengan gangguan pola pernafasan dan ketegangan otot. Dalam tulisan ini akan dibahas 3 latihan relaksasi di bidang kedokteran fisik dan rehabilitasi yaitu latihan pernafasan, latihan relaksasi progresif metode Jacobson, dan latihan metode Mitchell yang menggunakan pendekatan fisik.

 

Latihan pernafasan

Pola pernafasan yang cepat dan dangkal merupakan salah satu gejala dari stress yang berhubungan dengan respon fight or flight dari saraf simpatis. Pola pernafasan tersebut berbeda dengan pola pernafasan parasimpatis yang cenderung lambat. Berangkat dari hal tesebut, pengaturan kontrol pola pernafasan dipercaya dapat membantu proses relaksasi.

Untuk mengatur pola pernafasan pertama-tama pasien dibuat menyadari pola pernafasannya saat ini dengan merasakan pergerakan dinding dada dan dinding abdomen yang menyertai pernafasan. Setelah itu pasien dibimbing dengan instruksi verbal berupa hitungan untuk memperlambat pola nafasnya. Latihan ini dapat dikombinasi dengan diaphragmatic breathing dengan meminta pasien memfokuskan gerakan inspirasi dengan gerakan pengembangan dinding perut dan ekspirasi dengan gerakan pengempisan dinding perut.

Selain manfaat dari perlambatan ritme nafas, latihan pernafasan bermanfaat untuk mendistraksi pikiran pasien dengan mengalihkan fokus ke pergerakan nafas dan memastikan pola ventilasi yang optimal.

 

Latihan relaksasi progresif metode Jacobson

Latihan relaksasi progresif didasarkan dari studi yang dilakukan oleh Jacobson, seorang dokter dan ahli elektrofisiologis. Studi EMG yang dilakukan oleh Jacobson menemukan bahwa otot dapat mencapai keadaan relaksasi total selama istirahat secara volunter. Setiap ketegangan yang tersisa saat otot dalam kondisi istirahat disebut kontraksi residual dan kontraksi inilah yang berusaha dihilangkan Jacobson dalam metode relaksasinya.

Tahapan relaksasi progresif meliputi gerakan kontraksi dan relaksasi secara bergantian pada berbagai otot. Melalui gerakan tersebut pasien diajari untuk mengenali kondisi otot dalam kondisi kontraksi dengan harapan lalu dapat merelaksasinya secara volunter.

Menurut Jacobson, otot-otot yang rileks memberikan pengaruh yang menenangkan pada seluruh tubuh termasuk pikiran. Otot yang rileks memungkinkan orang berpikir lebih jernih dan membantu mereka untuk memecahkan masalah terkait emosinya. Pendekatan ini bersifat fisiologis karena prosedurnya berkaitan dengan organ fisik, yaitu otot dan saraf, namun adanya komponen memfokuskan pikiran ke otot memberikan efek distraksi sehingga juga bermanfaat untuk menciptakan relaksasi psikologis.

Gerakan yang dilakukan dalam metode relaksasi diantaranya adalah menggenggam tangan, menekan lengan ke kursi, menaikkan alis, merapatkan gigi, mengencangkan otot punggung, mengencangkan otot perut, mengencangkan otot paha, memijakkan telapak kaki kaki ke tanah, dan menarik telapak kaki ke atas. Gerakan tersebut dilakukan dengan bimbingan terapis, dilakukan secara beurutan, dan dapat diulangi bila perlu. Setiap gerakan kontraksi otot dilakukan sebanyak 2 kali, masing-masing 1 menit dengan jeda istirahat  3 menit diantaranya, dan diakhiri dengan gerakan relaksasi otot selama 3 menit. Dalam variasi lain yang lebih singkat, gerakan kontraksi otot dilakukan selama 5 detik diikuti relaksai selama 30 detik.

 

Latihan metode Mitchell

Metode Mitchell diperkenalkan oleh seorang fisioterapis Bernama Laura Mitchell. Menurut Mitchell tidak ada gunanya meminta seseorang untuk memperhatikan ketegangan di ototnya karena tidak ada ujung saraf di jaringan otot yang mampu menyampaikan informasi tersebut ke otak untuk disadari. Aparatus sensorik di otot hanya berhubungan dengan otak bagian bawah dan sumsum tulang belakang sehingga desakan kepada pasien untuk menyadari ada atau tidak adanya ketegangan otot dianggap Mitchell tidak tepat. Menurut Mitchell, struktur yang memiliki hubungan dengan kesadaran di otak adalah struktur proprioseptif di persendian dan reseptor tekanan pada kulit; yang pertama berperan dalam menginformasikan di mana anggota tubuh kita berada di suatu ruang dan yang kedua berperan dalam menginformasikan di mana kulit sedang diregangkan atau ditekan. Mitchell menyatakan bahwa hanya dengan menggerakkan sendi dan meregangkan kulit, maka informasi tentang keadaan otot diteruskan ke pusat yang lebih tinggi. Jadi, persendian dan kulit adalah organ yang perlu mendapat fokus perhatian.

Pendekatan Mitchell didasarkan pada prinsip fisiologis inhibisi reciprokal, yaitu ketika satu kelompok otot agonis pada sendi berkontraksi, kelompok otot antagonis dari sendi tersebut akan mengalami relaksasi. Mekanisme ini dipercaya merupakan mekanisme bawaan untuk memungkinkan kinerja gerakan sendi yang mulus. Mitchell memanfaatkan prinsip ini dan menjadikannya inti dari pendekatan metode relaksasinya.

Metode ini diawali dengan identifikasi postur yang berhubungan dengan stres, yang oleh Mitchell disebut punching position, serta otot yang bekerja dalam mempertahankan postur tersebut. Setelah otot-otot yang berkontraksi diidentifikasi, kemudian dilakukan upaya relaksasi dengan mengaktifkan kelompok otot antagonis. Pasien lalu diminta mengingat perubahan posisi sendi yang dihasilkan dan sensasi kulit yang menyertai sembari memposisikan diri dengan nyaman. Diharapkan dengan pendekatan tersebut pasien dapat menggerakkan tubuh keluar dari postur yang berhubungan dengan stres dan melatih pikiran untuk mengenali postur yang rileks.

Gerakan yang dilakukan dalam metode Mitchell diantaranya adalah menarik bahu ke arah kaki, membuka ketiak, merenggangkan jari tangan, memutar pinggul ke luar, memposisikan lutut dengan nyaman, menekan telapak kaki ke lantai, menekan punggung ke sandaran kursi, menekan kepala ke sandaran kursi, menekan lidah ke bawah, dn menutup mata.. Setiap gerakan dibimbing dengan bimbingan terapis. Tidak ada waktu tertentu dalam latihan, terapis memberikan arahan untuk memulai kontraksi dan akan mengatakan “stop” bila gerakan sendi dirasa sudah cukup. Setiap gerakan dilakukan secara beurutan dan dapat diulangi bila perlu.

 

Metode relaksasi lainnya

Selain dari 3 metode diatas, terdapat metode-metode relaksasi lainnya yang telah banyak dikenal dan dipraktekkan di masyarakat, diantaranya yaitu stretching otot, massage, dan latihan aerobik. Latihan stretching otot dan massage bertujuan untuk merelaksasi otot yang mengalami ketegangan secara langsung, sedangkan latihan aerobik bertujuan memperbaiki homeostasis dan kondisi fisiologis yang terganggu akibat stress.

 

Dalam prakteknya, pemilihan metode relaksasi disesuaikan dengan berbagai faktor, diantaranya yaitu gejala yang ditimbulkan, waktu yang tersedia untuk relaksasi, dan kenyamanan pasien. Setiap metode relakasasi dapat dikombinasi satu metode dengan metode lainnya dan antara satu pendekatan dengan pendekatan lainnya untuk mencapai hasil yang terbaik.